Selasa, 23 Oktober 2012

Film I Not Stupid: Kritik Dunia Pendidikan yang Terkotak-Kotak

Film I Not Stupid:

Kritik Dunia Pendidikan yang Terkotak-Kotak 

 Bagus Kurnia Rahman

Film  ini mengisahkan tentang persahabatan dari tiga orang anak denga latar belakang mereka, baik dari perekonomian keluarga, didikan orang tua mereka sendiri-sendiri. Boon Hock adalah anak dari ketiga tokoh yang menjadi pemeran dari film ini yang disetting paling pintar. Boon Hock datang dari keluarga sederhana yang membuka warung makanan makanan. Dalam kesehariannya, Boon Hock menghabiskan waktunya di warung makanan milik orang tuanya, muali dari menjadi pelayan sendiri di warung, mengasuh adiknya yang masih kecil, dan juga masih dapat meluangkan waktunya untuk belajar dan mengerjaka tugas dari sekolahnya. Kemuadian Terry. Terry hidup dari keluarga yang sangat kaya, dapat dilihat dari ayahnya yang menjadi seorang direktur sebuah perusahaan dendeng babi. Kecerdasan intelektualnya rata-rata dibandingakan dari dua tokoh dari fim ini Boon Hock dan Kok Pin. Terry adalah anak yang sangat patuh dengan apa yang menjadi tutur kata ibunya, yang menjadi doktrin penting dari ibunya terhadap Terry dan kakaknya adalah untuk tidak ikut campur urusan orang, sehingga Terry menjadi anak yang tidak bisa mengatur kehidupannya dengan lingkungan di mana dia tinggal.
Kok Pin, adalah salah satu tokoh dalam film ini yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata dalam ukuran dunia pendidikan Singapura. Hasil dari tugas dan ujian yang selalu rendah membuat sang ibu untuk mengikuti saran dari teman kantornya, yaitu memberikan pecutan dengan rotan agar Kok Pin dapat memperoleh hasil yang bagus, walaupun dengan cara ini pula membuat Kok Pin mempunyai niat untuk bunuh diri karena tidak dapat menghasilkan nilai yang bagus. Ini karena bakat Kok Pien bukan pada ilmu mainstream (Bahasa Inggeris, Matematika, Science) tetapi justru karena bakatnya sebenarnya pada bidang seni yaitu melukis. Keluarga Kok Pien adalah middle class Singapura yang harus berjuang untuk tetap berada di wilayah middle class yang penuh persaingan. Kok Pien sendiri begitu stress dengan nilainya sehingga sempat berniat bunuh diri.
Ketiga anak tersebut bersekolah di salah satu sekolah di Singapura, yaitu EM 3. EM 3 adalah seuah sekolah yang diperuntukan bagi anak-anak yang tingkat kecerdasannya rendah, dan bahka salah satu guru pengajar di EM 3 mengatakan bahwa murid di EM 3 sudah tidak dapat diselamatka lagi. Sangat berbading terbalik dengan sekolah kelas EM 1 yang hanya difokuskan pada anak-anak yang mempunyai tingakat kecerdasan yang tinggi. Sehingga dalam film ini melihatkan bagaimana betapa terstratanya dunia pendidikan di Singapura, dan tidak jarang pula anak-anak yang sekolah di EM 3 harus diolok-olok oleh anaka yang bersekolah di EM 1.
Dunia pendidikan negara Singapura yang digambarkan dalam film I Not Stupid ini lebih menekankan pada spesialisasi pendidikan. Dapat dilihat bahwa masyarakat Singapura untuk meletakkan anaknya disekolah harus diutamakan pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan juga Matematika. Hal ini juga yang menjadikan konstruksi masyarakatnya berpandangan jika seorang anak tidak dapat lulus dalam Berbahasa Inggris dan juga Matematika, maka dapat dipastikan akan menjadi orang yang tidak berguna dan tidak dianggap dalam kehidupan bermasyarakatnya.
Seharusnya dalam suatu proses pengajaran pendidikan tidak harus dengan spesialisasi semacam itu, tapi juga harus melihat dari apa yang anak didik miliki atau dapat dikatakan sebagai potensi. Potensi yang dimiliki setiap individu seharusnya patut digali untuk pengembangan individunya. Suatu potensi yang dimiliki oleh setiap anak pastilah berbeda, sehingga apabila masyarakat jika masuk dalam dunia pendidikan harus terspesialisasi sedemikian rupa, maka yang akan terjadi adalah tidak adanya ruang bagi mereka untuk menggali potensi diri tersebut akan tetapi justru akan membuat suatu paksaan bagi individu. Digambarkan dala film ini, Kok Pin, adalah anak yang kurang pandai dalam dunia akademis di sekolahnya (EM 3), nilai yang di bawah rata-rata membuat dia selalu diejek oleh anak-anak EM 1 dan sempat membuat jengkel ibunya. Akan tetapi dia adalah anak yang pandai menggambar, yang hal ini adalah hal yang tidak disukai oleh ibunya, namun setelah wali kelasnya adalah wali kelas yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan anak didiknya, secara tidak diduga Kok Ppin berhasil menjadi juara dua dalam sebuah kompetisi menggambar inetrnasional yang diadakan di Amerika, dan mendapatkan beasiswa di Amerika.
Film ini mencoba untuk memberikan kritik kepada pemerintahan Singapura dalam hal pendidikan, bahwa untuk mewujudkan masyarakat yang baik dan maju bukan dari hasil spesialisasi semata, tapi juga bagaimana harus adanya penggalian potensi dalam tiap individunya agar dapat bersaing secara sehat di masyarakatnya kelak. Selain itu juga film ini mengritik agar pemakaian bahasa tidak melupakan bahasa induknya yang semakin tergilas oleh budaya barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar