Film I Not Stupid:
Kritik Dunia Pendidikan yang Terkotak-Kotak
Bagus Kurnia Rahman
Film ini
mengisahkan tentang persahabatan dari tiga orang anak denga latar belakang
mereka, baik dari perekonomian keluarga, didikan orang tua mereka
sendiri-sendiri. Boon Hock adalah anak dari ketiga tokoh yang menjadi pemeran
dari film ini yang disetting paling pintar. Boon Hock datang dari keluarga
sederhana yang membuka warung makanan makanan. Dalam kesehariannya, Boon Hock
menghabiskan waktunya di warung makanan milik orang tuanya, muali dari menjadi
pelayan sendiri di warung, mengasuh adiknya yang masih kecil, dan juga masih
dapat meluangkan waktunya untuk belajar dan mengerjaka tugas dari sekolahnya. Kemuadian
Terry. Terry hidup dari keluarga yang sangat kaya, dapat dilihat dari ayahnya
yang menjadi seorang direktur sebuah perusahaan dendeng babi. Kecerdasan intelektualnya
rata-rata dibandingakan dari dua tokoh dari fim ini Boon Hock dan Kok Pin.
Terry adalah anak yang sangat patuh dengan apa yang menjadi tutur kata ibunya,
yang menjadi doktrin penting dari ibunya terhadap Terry dan kakaknya adalah
untuk tidak ikut campur urusan orang, sehingga Terry menjadi anak yang tidak
bisa mengatur kehidupannya dengan lingkungan di mana dia tinggal.
Kok Pin, adalah
salah satu tokoh dalam film ini yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata
dalam ukuran dunia pendidikan Singapura. Hasil dari tugas dan ujian yang selalu
rendah membuat sang ibu untuk mengikuti saran dari teman kantornya, yaitu
memberikan pecutan dengan rotan agar Kok Pin dapat memperoleh hasil yang bagus,
walaupun dengan cara ini pula membuat Kok Pin mempunyai niat untuk bunuh diri
karena tidak dapat menghasilkan nilai yang bagus. Ini karena bakat Kok Pien
bukan pada ilmu mainstream (Bahasa Inggeris, Matematika, Science) tetapi justru
karena bakatnya sebenarnya pada bidang seni yaitu melukis. Keluarga Kok Pien
adalah middle class Singapura yang harus berjuang untuk tetap berada di wilayah
middle class yang penuh persaingan. Kok Pien sendiri begitu stress dengan
nilainya sehingga sempat berniat bunuh diri.
Ketiga anak tersebut bersekolah di salah satu
sekolah di Singapura, yaitu EM 3. EM 3 adalah seuah sekolah yang diperuntukan
bagi anak-anak yang tingkat kecerdasannya rendah, dan bahka salah satu guru
pengajar di EM 3 mengatakan bahwa murid di EM 3 sudah tidak dapat diselamatka
lagi. Sangat berbading terbalik dengan sekolah kelas EM 1 yang hanya difokuskan
pada anak-anak yang mempunyai tingakat kecerdasan yang tinggi. Sehingga dalam
film ini melihatkan bagaimana betapa terstratanya dunia pendidikan di
Singapura, dan tidak jarang pula anak-anak yang sekolah di EM 3 harus
diolok-olok oleh anaka yang bersekolah di EM 1.
Dunia pendidikan negara Singapura yang digambarkan
dalam film I Not Stupid ini lebih menekankan pada spesialisasi pendidikan.
Dapat dilihat bahwa masyarakat Singapura untuk meletakkan anaknya disekolah
harus diutamakan pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan juga Matematika. Hal
ini juga yang menjadikan konstruksi masyarakatnya berpandangan jika seorang
anak tidak dapat lulus dalam Berbahasa Inggris dan juga Matematika, maka dapat
dipastikan akan menjadi orang yang tidak berguna dan tidak dianggap dalam
kehidupan bermasyarakatnya.
Seharusnya dalam suatu proses pengajaran pendidikan
tidak harus dengan spesialisasi semacam itu, tapi juga harus melihat dari apa
yang anak didik miliki atau dapat dikatakan sebagai potensi. Potensi yang
dimiliki setiap individu seharusnya patut digali untuk pengembangan
individunya. Suatu potensi yang dimiliki oleh setiap anak pastilah berbeda,
sehingga apabila masyarakat jika masuk dalam dunia pendidikan harus
terspesialisasi sedemikian rupa, maka yang akan terjadi adalah tidak adanya
ruang bagi mereka untuk menggali potensi diri tersebut akan tetapi justru akan
membuat suatu paksaan bagi individu. Digambarkan dala film ini, Kok Pin, adalah
anak yang kurang pandai dalam dunia akademis di sekolahnya (EM 3), nilai yang
di bawah rata-rata membuat dia selalu diejek oleh anak-anak EM 1 dan sempat
membuat jengkel ibunya. Akan tetapi dia adalah anak yang pandai menggambar,
yang hal ini adalah hal yang tidak disukai oleh ibunya, namun setelah wali
kelasnya adalah wali kelas yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan
anak didiknya, secara tidak diduga Kok Ppin berhasil menjadi juara dua dalam
sebuah kompetisi menggambar inetrnasional yang diadakan di Amerika, dan
mendapatkan beasiswa di Amerika.
Film ini mencoba untuk memberikan kritik kepada
pemerintahan Singapura dalam hal pendidikan, bahwa untuk mewujudkan masyarakat
yang baik dan maju bukan dari hasil spesialisasi semata, tapi juga bagaimana harus
adanya penggalian potensi dalam tiap individunya agar dapat bersaing secara
sehat di masyarakatnya kelak. Selain itu juga film ini mengritik agar pemakaian
bahasa tidak melupakan bahasa induknya yang semakin tergilas oleh budaya barat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar