Film IP Man 2:
Pelunturan Primordialisme
Bagus Kurnia Rahman
IP
2 adalah sebuah film laga yang berseting di Hong-Kong dengan masa pendudukan
orang-orang Inggris di Hong-Kong dengan kultur masyarakat Hong-Kong sendiri
yang syarat dengan dunia persilatan atau ilmu-ilmu bela diri. IP Man sebenarnya
adalah orang China yang diungsikan ke Hong-Kong setelah menang melawan
orang-orang Jepang di China. Di Hong-Kong, Ip Man mendirikan sekolah ilmu bela
diri dengan aliran Wing Chun yang berasal dari kota Foshan.
Pada
awalnya, semenjak Ip Man tinggal di Hong-Kong kesehariannya dalam menjalani
kehidupan sangat sulit dikarenakan sulitnya hal untul memenuhi kebutuhan dan
minimnya perekonomian yang dimilki
oleh keluarga Ip Man. Ip Man di Hong-Kong tinggal bersama istrinya yang sedang hamil dan satu anak laki-lakinya. Pada awalnya, ketika Ip Man membuka sebuah perguruan silat yang didirikan di atas baseman sebuah rusun hasilnya nihil, tidak ada satu murid pun yang mau untuk masuk dalam perguruan tersebut. Dalam benaknya, dengan mendirikan sebuah perguruan silat dapat mengurangi beban ekonomi yang ditanggungnya. Setia harinya selalu berharap agar ada seseorang yang mau untuk menjadi muridnya. Hingga suatu hari ada seorang ada muda yang menantang Ip Man, akan tetapi kalah dan akhirnya menjadi murid tetap di perguruan silat Wing Chun tersebut, murid
tersebut bernama A Liong. A Liong pun menyebarkan kabar bahwa Ip Man adalah
seorang pesilat yang hebat, dan pada akhirnya mulai berdatangan murid-murid
yang baru. Akan tetapi dengan banyaknya murid masih tidak cukup untuk menutupi
kebutuhan perekonomiannya.oleh keluarga Ip Man. Ip Man di Hong-Kong tinggal bersama istrinya yang sedang hamil dan satu anak laki-lakinya. Pada awalnya, ketika Ip Man membuka sebuah perguruan silat yang didirikan di atas baseman sebuah rusun hasilnya nihil, tidak ada satu murid pun yang mau untuk masuk dalam perguruan tersebut. Dalam benaknya, dengan mendirikan sebuah perguruan silat dapat mengurangi beban ekonomi yang ditanggungnya. Setia harinya selalu berharap agar ada seseorang yang mau untuk menjadi muridnya. Hingga suatu hari ada seorang ada muda yang menantang Ip Man, akan tetapi kalah dan akhirnya menjadi murid tetap di perguruan silat Wing Chun tersebut, murid
Proses
dinamika kelompok yang ada di film ini bermula dari di mana A Liong berseteru
dengan orang-orang dari perguruan silat yang lain, mereka saling meremehkan
perguruan masing-masing hingga akhirnya perkelahian pun tidak dapat
dihindarkan. Rasa primordialisme inilah yang saling diperkuat oleh
masing-masing murid dari perguruan silat yang ada. Saling menganggap kelompok
yang di miliki jauh lebih baik dari kelompok yang lain, sehingga perselisihan
ini berlangsung secara terus menerus. Penyekapan dan tawuran atau perkelahian pun
tidak dapat dihindarkan lagi antara perguruan silat satu dengan perguruan silat
yang lain. Pengutan suatu kelompok dalam film ini dimulai dengan proses
interaksi antara guru dengan murid, dan juga antara murid dengan murid. Selain
proses interaksi, juga juga dari proses latihan yang dijadikan sebagai jalan
untuk dapat menginternalisasikan nilai, norma, dan juga apa yang menjadi
peganga dalam kelompok tersebut.
Hingga
suatu saat munculah seorang guru bela diri dari peguruan aliran Hung Ga yang
bernama Hung Chun-Nam yang juga menjadi ketua dan pelindung peguruan bela diri
di Hong-Kong. Dalam film ini digambarkan bahwa untuk membuka sebuah peguruan
bela diri di Hong Kong tidak semudah di Foshan. Dari apa yang dikatakan oleh
Guru Hung kepada Ip Man, bahwa apabila ingin membuka perguruan silat di Hong
Kong harus membayar biaya perlindungan dan juga melegalkan perguruan yang baru
dengan ditantang oleh master dari peguruan bela diri lain. Dan sebenarnya Guru
Hung berada dibawah kuasa elite orang Inggris untuk membayar upeti. Akhirnya,
Ip Man mau untuk mengikuti tantangan dari para guru untuk dapat melegalkan
perguruan silatnya.
Terdapat
sebuah proses interaksi asosiatif dimana proses tersebut dapat mempekuat
konsolidasi antar kelompok yang ada dalam film ini adalah antar perguruan
silat. Proses ini dimulai saat adanya pertandingan tinju yang diadakan oleh
orang-orang Inggris. Acara awalnya adalah suguhan acara demo bela diri dari
salah satu sebuah perguruan bela diri yang ada. Namun, sang petinju dari
kalangan Inggris yang bernama Twister meremehkan seni bela diri yang berasal
dari Tionghoa tersebut dan hal ini menyinggung para orang-orang Thionghoa yang
menggap bela diri Thionghoa sebagai suatu hal yang dijadikan sebagai budaya
yang perlu dipertahankan. Hingga akhirnya Guru Hung merasa tidak terima apa
yang dikatakan Twister dan menantang Twister untuk bertarung dengannya. Tapi
sayangnya pertarungan ini berakhir tragis, Guru Hung tewas setelah bertarung
dengan Twister tersebut.
Hal
ini membuat Ip Man tergugah hatinya untuk dapat mempertahankan bela diri
Thionghoa seperti yang dikatakan oleh Guru Hung bahwa “berani hidup untuk diri
sendiri, tapi berani mati untuk budayamu.” Hal inilah yang membuat bentung
resistensi terhadap para orang-orang Ingris yang menjajah mereka. Ip Man pun
menantang Twister untuk bertarung di gelaran tinju berikutnya. Tindakan ini pun
menjadi pemicu bentuk persatuan dari orang-orang Thionghoa yang ada. Rasa
primordialisme sebulumnya yang terjadi dimana antar perguruan bela diri yang
sebelumnya saling merendahkan menjadi luntur dan bersatu untuk dapat
mempertahankan budaya yang mereka jalani. Tidak hanya itu, dukungan lewat surat
kabar untuk menjatuhkan orang-orang Ingris yang berkuasa pun dilakukan. Hal
terseut terjadi karena adanya motif dan tujuan yang sama antara orang-orang
etnis Cina untuk dapat mempertahankan kebudayaan mereka dari ketertindasan
orang-orang barat.
Dukungan
pun berlanjut hingga waktu Ip Man bertarung dengan Twister sang petinju. Dan
pada akhirnya Ip Man dapat mengalahkan Twister untuk membalaskan apa yang
diperoleh oleh Guru Hung. Setelah bertanding Ip Man menjelaskan kepada para
penonton yang melihat terutama pada orang-orang Ingris yang ada bahwa “suatu
perbedaan itu adalah hal yang biasa. Setiap orang pasti memiliki budaya yang
patut untuk dipertahankan, dan janganlah untuk diremehkan. Saling menghargai
dan menghormati antar bangsa itu adalah suatu keharusan yang patut dijunjung.”
Setelah menjelaskan apa yang ingin diutarakan, semua golongan dan kalangan,
baik itu orang Tionghoa maupun orang Inggris paham dan sadar tentang perbedaan
yang ada.
Dari
review film Ip Man 2 tersebut dijelaskan bahwa suatu primordialisme suatu
kelompok dapat luntur ketika adanya suatu pemicu, motif, dan juga tujuan yang
dapat meningkatkan integrasi antar kelompok yang ada untuk bergabung menjadi
satu. Salah satunya adalah hal yang bersifat fundamental yang dalam film ini
digambarkan melalui budaya dari suatu etnis yang direndahkan sehingga
menciptakan kesadaran kolektif akan apa yang dijunjung tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar