Jumat, 26 Oktober 2012

Film IP Man 2: Pelunturan Primordialisme

Film IP Man 2:

Pelunturan Primordialisme

Bagus Kurnia Rahman


IP 2 adalah sebuah film laga yang berseting di Hong-Kong dengan masa pendudukan orang-orang Inggris di Hong-Kong dengan kultur masyarakat Hong-Kong sendiri yang syarat dengan dunia persilatan atau ilmu-ilmu bela diri. IP Man sebenarnya adalah orang China yang diungsikan ke Hong-Kong setelah menang melawan orang-orang Jepang di China. Di Hong-Kong, Ip Man mendirikan sekolah ilmu bela diri dengan aliran Wing Chun yang berasal dari kota Foshan.
Pada awalnya, semenjak Ip Man tinggal di Hong-Kong kesehariannya dalam menjalani kehidupan sangat sulit dikarenakan sulitnya hal untul memenuhi kebutuhan dan minimnya perekonomian yang dimilki
oleh keluarga Ip Man. Ip Man di Hong-Kong tinggal bersama istrinya yang sedang hamil dan satu anak laki-lakinya. Pada awalnya, ketika Ip Man membuka sebuah perguruan silat yang didirikan di atas baseman sebuah rusun hasilnya nihil, tidak ada satu murid pun yang mau untuk masuk dalam perguruan tersebut. Dalam benaknya, dengan mendirikan sebuah perguruan silat dapat mengurangi beban ekonomi yang ditanggungnya. Setia harinya selalu berharap agar ada seseorang yang mau untuk menjadi muridnya. Hingga suatu hari ada seorang ada muda yang menantang Ip Man, akan tetapi kalah dan akhirnya menjadi murid tetap di perguruan silat Wing Chun tersebut, murid
tersebut bernama A Liong. A Liong pun menyebarkan kabar bahwa Ip Man adalah seorang pesilat yang hebat, dan pada akhirnya mulai berdatangan murid-murid yang baru. Akan tetapi dengan banyaknya murid masih tidak cukup untuk menutupi kebutuhan perekonomiannya.
Proses dinamika kelompok yang ada di film ini bermula dari di mana A Liong berseteru dengan orang-orang dari perguruan silat yang lain, mereka saling meremehkan perguruan masing-masing hingga akhirnya perkelahian pun tidak dapat dihindarkan. Rasa primordialisme inilah yang saling diperkuat oleh masing-masing murid dari perguruan silat yang ada. Saling menganggap kelompok yang di miliki jauh lebih baik dari kelompok yang lain, sehingga perselisihan ini berlangsung secara terus menerus. Penyekapan dan tawuran atau perkelahian pun tidak dapat dihindarkan lagi antara perguruan silat satu dengan perguruan silat yang lain. Pengutan suatu kelompok dalam film ini dimulai dengan proses interaksi antara guru dengan murid, dan juga antara murid dengan murid. Selain proses interaksi, juga juga dari proses latihan yang dijadikan sebagai jalan untuk dapat menginternalisasikan nilai, norma, dan juga apa yang menjadi peganga dalam kelompok tersebut.
Hingga suatu saat munculah seorang guru bela diri dari peguruan aliran Hung Ga yang bernama Hung Chun-Nam yang juga menjadi ketua dan pelindung peguruan bela diri di Hong-Kong. Dalam film ini digambarkan bahwa untuk membuka sebuah peguruan bela diri di Hong Kong tidak semudah di Foshan. Dari apa yang dikatakan oleh Guru Hung kepada Ip Man, bahwa apabila ingin membuka perguruan silat di Hong Kong harus membayar biaya perlindungan dan juga melegalkan perguruan yang baru dengan ditantang oleh master dari peguruan bela diri lain. Dan sebenarnya Guru Hung berada dibawah kuasa elite orang Inggris untuk membayar upeti. Akhirnya, Ip Man mau untuk mengikuti tantangan dari para guru untuk dapat melegalkan perguruan silatnya.
Terdapat sebuah proses interaksi asosiatif dimana proses tersebut dapat mempekuat konsolidasi antar kelompok yang ada dalam film ini adalah antar perguruan silat. Proses ini dimulai saat adanya pertandingan tinju yang diadakan oleh orang-orang Inggris. Acara awalnya adalah suguhan acara demo bela diri dari salah satu sebuah perguruan bela diri yang ada. Namun, sang petinju dari kalangan Inggris yang bernama Twister meremehkan seni bela diri yang berasal dari Tionghoa tersebut dan hal ini menyinggung para orang-orang Thionghoa yang menggap bela diri Thionghoa sebagai suatu hal yang dijadikan sebagai budaya yang perlu dipertahankan. Hingga akhirnya Guru Hung merasa tidak terima apa yang dikatakan Twister dan menantang Twister untuk bertarung dengannya. Tapi sayangnya pertarungan ini berakhir tragis, Guru Hung tewas setelah bertarung dengan Twister tersebut.
Hal ini membuat Ip Man tergugah hatinya untuk dapat mempertahankan bela diri Thionghoa seperti yang dikatakan oleh Guru Hung bahwa “berani hidup untuk diri sendiri, tapi berani mati untuk budayamu.” Hal inilah yang membuat bentung resistensi terhadap para orang-orang Ingris yang menjajah mereka. Ip Man pun menantang Twister untuk bertarung di gelaran tinju berikutnya. Tindakan ini pun menjadi pemicu bentuk persatuan dari orang-orang Thionghoa yang ada. Rasa primordialisme sebulumnya yang terjadi dimana antar perguruan bela diri yang sebelumnya saling merendahkan menjadi luntur dan bersatu untuk dapat mempertahankan budaya yang mereka jalani. Tidak hanya itu, dukungan lewat surat kabar untuk menjatuhkan orang-orang Ingris yang berkuasa pun dilakukan. Hal terseut terjadi karena adanya motif dan tujuan yang sama antara orang-orang etnis Cina untuk dapat mempertahankan kebudayaan mereka dari ketertindasan orang-orang barat.
Dukungan pun berlanjut hingga waktu Ip Man bertarung dengan Twister sang petinju. Dan pada akhirnya Ip Man dapat mengalahkan Twister untuk membalaskan apa yang diperoleh oleh Guru Hung. Setelah bertanding Ip Man menjelaskan kepada para penonton yang melihat terutama pada orang-orang Ingris yang ada bahwa “suatu perbedaan itu adalah hal yang biasa. Setiap orang pasti memiliki budaya yang patut untuk dipertahankan, dan janganlah untuk diremehkan. Saling menghargai dan menghormati antar bangsa itu adalah suatu keharusan yang patut dijunjung.” Setelah menjelaskan apa yang ingin diutarakan, semua golongan dan kalangan, baik itu orang Tionghoa maupun orang Inggris paham dan sadar tentang perbedaan yang ada.
Dari review film Ip Man 2 tersebut dijelaskan bahwa suatu primordialisme suatu kelompok dapat luntur ketika adanya suatu pemicu, motif, dan juga tujuan yang dapat meningkatkan integrasi antar kelompok yang ada untuk bergabung menjadi satu. Salah satunya adalah hal yang bersifat fundamental yang dalam film ini digambarkan melalui budaya dari suatu etnis yang direndahkan sehingga menciptakan kesadaran kolektif akan apa yang dijunjung tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar