Rabu, 24 Oktober 2012

Kolaborasi Musik dan Kapitalisasi

Kolaborasi Musik dan Kapitalisasi

Penilaian Theodore W. Adorno tentang Industri Budaya

Bagus Kurnia Rahman

Industri budaya saat ini sudah semakin marak, yang dianggap oleh Adorno sebagai suatu industri karena lebih mementingkan keuntungan besar dibandingkan dengan mendalami nilai budaya yang ada sebagai suatu analisis kritis dan sebagai sarana kebebasan inidividu. Karena sifatnya yang lebih mementingkan keuntungan semata, dapat dikatakan hasil produksi kesenian tidak lagi sesuai keasliannya yaitu adanya nilai-nilai budaya bagi masyarakat. Hal tersebut terjadi karena industri hanya akan menahan stimulus bagi para konsumennya untuk dapat berikir secara kritis, tidak lagi dapat mencari nilai dari sebuah karya seni. Sehingga industri kesenian hanyalah sebagai kegembiraan yang semu belaka. Antara seni dengan sistem pasar, Adorno menggunakan avant-garde, yaitu upaya untuk menentang homogenisasi yang ditujukan pada komersialisasi seni, di mana objek seni akan direduksi agar nantinya hanya dapat memiliki nilai tukar saja.

 Musik merupakan salah satu warisan budaya masyarakat dunia yang banyak orang mengatakan sebagai punya seribu makna dan memang realitasnya saat ini musik menjadi hiburan sederhana yang melekat di kehidupan masyarakat dunia. Seni musik yang semakin populer dinilai Adorno mulai bergerak dan bahkan mungkin orientasinya sudah mencerminkan kapitalisasi yang berujung pada apa yang namanya industrialisasi budaya dengan sebuah penanaman proses standarisasi di kalangan masyarakat.
Gagasan-gagasan Theodore W. Adorno, dalam esainya On Popular Music, musik populer adalah produk standardisasi. Berbeda dengan struktur organik musik serius, dalam apa setiap detail mengekspresikan keseluruhan, musik populer menurut Adorno benar-benar sangat mekanis karena detail yang ada bisa dibentuk dari satu lagu ke lagu lain tanpa akibat nyata pada struktur organiknya secara keseluruhan.
Detail-detail dari sebuah lagu populer, misalnya, bisa dipertukarkan dengan detail dari lagu populer yang lain. Sekali sebuah musik atau pola lirik musik populer suclah bisa distandardisasi, bisa akan dieksploitasi untuk meraih keuntungan komersial. Guna menyembunyikan standardisasi ini, industri bisnis musik kemudian menciptakan apa yang oleh Adorno disebut pseudo-individualization. Melalui teknik ini para penikmat musik populer lupa bahwa apa yang mereka dengarkan pada dasarnya sudah pernah mereka dengar sebelumnya. Musik popular di mata Adorno mempromosikan pendengar yang pasif belaka. Dalam konteks sosial masyarakat modern, musik populer dianggap Adorno sama sekali tidak produktif jika dihubungkan dengan kehidupan di dalam kantor. Baginya, mereka yang kecanduan musik populer tidaklah berbeda dengan mereka yang kecanduan heroin: musik populer dijadikan pemuasan hasrat mereka yang dibelenggu kejenuhan nainitas pekerjaan dalam masyarakat industrial kapitalis. Pada akhirnya tujuan dari musik popular hanya membentuk fetisisme komoditas yang menekankan pada pemujaan berlebihan akan musik dikarenakan musik dianggap dapat menenangkan pikiran, masuk ke alam bawah sadar sesuai dengan porsi dan keadaannya yang dialami.
Adorno mencoba melihat fungsi sosiopsikologis musik populer sebagai sejenis perekat sosial (social cement) dalam masyarakat industri kapitalis. Mereka menjadi gerombolan massa yang patuh secara total pada kondisi yang menekan dan eksploitatif. Penyesuaian ini menurut Adorno termanifestasikan dalam dua tipe perilaku sosiopsikologis masyarakat massa, yakni tipe kepatuhan ritmikal (rhythmically obedient type) dan tipe kepatuhan emosional (emotional obedient tipe).
Adorno sendiri lebih memihak pada musik-musik klasik yang dianggapnya lepas dari unsur-unsur kapitalisasi atau standarisasi. Alasan yang paling sederhanya mengapa Adorno lebih condong pada musik-musik klasik  adalah bahwa Adorno sendiri lahir di lingkungan dan kalangan para elite/golongan atas dan memang pada masa itu musik klasik menjadi musik yang terbatas untukkelas atas. Mungkin jika Adorno lahir pada masa berbeda dengan kondisi lingkungan yang berbeda, analisinya pun mungkin akan berbeda. Jadi jangan kaget jika sekarang atau mungkin nanti Anda akan mulai merasakan musik-musik yang ada dengarkan adalah musik-musik yang akan "meninabobokkan"  alam bawah sadar Anda atau bahkan kegalauan Anda.
 

  Referensi:
  • Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
  • Hikmat Budiman. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar