Film Freedom Writers:
Penyadaran Kolektif Lewat Menulis
Bagus Kurnia Rahman
Sekilas tentang Freedom Writers
Film
Freedom Writers ini menceritakan
tentang bagaimana seorang pengajar disebuah sekolah menengah atas di Negara
Amerika Serikat yang mampu untuk menghandle dan dapat memberikan sebuah bentuk
persatuan atau penyatuan integrasi kelompok tanpa melihat berbagai macam suku
dan ras yang hadir dalam kelompok kelas tersebut. Cerita ini bermula ketika
terdapat seorang pengajar atau guru baru yang masuk disekolah Woodrow Wilson
High School New Port Beach, kawasan Amerika Serikat sebagai pengajar guru
bahasa Inggris yang bernama Erin Gruwell. Gruwell sangat terkejut ketika
mendapati anak didiknya yang sangat beragam dan keras, dalam artian mereka yang
menjadi musri dari Erin Gruwell adalah
anak-anak yang masuk dalam aliran-aliran
kelompok sendiri. terdapat berbagai ras dan suku yang hadir dalam kelas 203
ini. Orang kulit putih asli Amerika, orang keturunan kulit hitam, orang Kamboja
(Asia), dan juga orang-orang keturunan yang lain dengan latar belakang yang
berbeda-beda.
Di
kelas, anak-anak tersebut selalu membentuk kelompok sendiri sesuai dengan
sesamanya, orang-orang kulit hitam sendiri dan sebagainya dan tidak mau berbaur
dengan kelompok lain. Hal ini dikarenakan adanya suatu unsur primordialisme
yang sangat kuat yang membentuk mereka seperti ini, mereka menganggap kelompok
lain tidak jauh lebih baik dari kelompoknya. Imbasnya adalah munculnya
ketegangan sosial atau krisis sosial yang
marak terjadi di Amerika, perang antar kelompok atau geng sudah menjadi
hal yang lumrah pada waktu itu, hingga kekerasan seperti ini sampat terbawa ke
ruang kelas dimana kelas sebagai tempat belajar mengajar.
Saat
awal-awal Erin Gruwell menjadi pengajar dikelas 203, dia tidak dihormati sama
sekali oleh murid-muridnya. Gruwell yang menjadi seorang pengajar sangat tidak
tau harus berbuat apa untuk dapat menghilangkan sifat mereka yang arogan,
keras, dan dipenuhi rasa permusuhan yang besar. Hingga pada akhirnya terdapat
seorang murid yang menggambar orang kulit hitam dengan bibir yang besar yang disebar
keseluruh kelas, dan akhirnya sampai pada seorang anak yang bertepatan adalah
seorang anak berkulit hitam. Anak itu sedih karena diperlakukan seperti ini,
hingga Ms. Gruwell melihat gambar tersebut dan akhirnya kemarahan dia muncul. Dari
permasalahan ini, Ms. Gruwell mulai menerangkan bahwa perbedaan yang mengarah
pada perpecahan itu tidak baik, ia menekankan bahwa hidup bukan didasarkanpada
warna kulit yang justru dianggapa anak-anak dikelasnya sebagai faktor utama
dalam pencitraan kelompok-kelompok tersebut. Hari demi hari dilakukan Gruwell
untuk dapat memberikan suatu treatment yang diharapkan dapat memberikan suatu
perubahan yang dapat mengubah pola pikir mereka yang arogan, keras, dan
dipenuhi rasa permusuhan tersebut. Pada akhirnya Gruwell menemukan suatu cara
dengan memberikan catatan harian kosong (diary)
yang diberikan setiap murid untuk diisi dengan apa yang ingin mereka isi.
Curahan hati dalam kahidupan merekalah yang kemudian mereka isi ke diary tersebut.
Selain
itu, Gruwell juga menerapkan pada mereka untuk membaca kisah-kisah yang membuat
murid-nuridnya bangkit dan lepas dari konstruk kelompok-kelompok mereka.
Perlahan tapi pasti, anak-anak dikelas 203 tersebut mulai berubah dari rasa
primordialisme yang sangat kuat. Gruwell dapat menciptakan suatu kesadaran
kolektif bagi murid-muridnya. Lebih kompleksnya ketika mereka diajak oleh
Gruwell ke museum Holocaust tempat dimana segala informasi tentang korban para
pembantaian orang-orang Yahudi oleh
orang-orang Nazi. Dan akhirnya secara totalitas, Gruwell dapat merubah mainstream murid-muridnya menjadi lebih
baik. Cerita ini diakhiri dengan tulisan-tulisan dari diary mereka yang menjadi sebuah buku yang inspiratif.
Dalam
film Freedom Writers, Gruwell
berusaha membuat para muridnya sadar bahwa dengan pendidikan mereka akan bisa
mencapai kehidupan yang lebih baik. Gruwell rela mengorbankan hari-harinya dan
bahkan suaminya demi mengubah murid-muridnya. Walaupun semua usahanya itu tidak
didukung oleh rekan-rekan guru yang lain dan pihak sekolah, Gruwell terus berusaha
maju.
Kajian Dinamika Kelompok
Film
Freedom Writers jika dibahas dengan
konsep dinamika kelompok terutama dalam ciri-ciri kelompok maka akan mempunyai
penjelasan-penjelasan tersendiri.disetiap poinnya. Pertama adalah terdapatnya
dua individu atau lebih yang dapat membentuk kelompok. Dalam film ini jelas
terdapat suatu komunitas kelompok di dalamnya, hal ini terbukti dari
terdapatnya individu-individu yang berasal dari berbagai ras dan suku yang
berada dalam satu kelas. Komunitas ini dibentuk dalam suatu kelas sebagai
sarana belajar-mengajar di sekolah. Terdapat seorang guru (Ms. Erin Gruwell)
yang mampu membaurkan berbagai macam kelompok yang ada dikelas sebelumnya
sehingga menjadi sebuah kelompok baru yang didalamnya terdapat
kelompok-kelompok sebelumnya. Dalam membetuk kelompok baru, Ms. Gruwell mencoba
untuk melunturkan identitas-identitas sebelumnya menjadi identitas yang baru
atau seca kolektif. Jika dikorelasikan dengan pandangan Marx, bahwa Ms. Gruwell
mampu menciptakan kesadaran kolektif dari setiap individunya yang sebelumnya
hanya memiliki kesadaran semu tentang kondisi sebelumnya. Ikatan keintiman
suatu kelompok akan lebih kuat ketika individu berbaur dengan kelompok
sebayanya. Dalam film ini menerangkan bahwa primordialisme kelompok lebih kuat
dalam kehidupannya.
Kedua
adalah tentang motif atau tujuan yang sama. Secara realitasnya,
individu-individu pasti memiliki suatu tujuan-tujuan tertentu. Akan tetapi jika
muncul suatu permaslah baru yang masuk, maka tidak dapt dipungkiri bahwa dari
peroalan-persoalan baru tersebut akan menciptakan tujuan baru, tapi juga dari
tujuan baru ini dapat juga memunculkan perbedaan kelompok. Dalam Freedom Writers menceritakan dalam kelas
203 terdapat beragam kelompok suku dan ras yang pada intinya memiliki
tujuan-tujuan tersendiri antar kelompk-kelompok tersebut. Tujuan antara
kelompok satu dengan yang lain jelas sangat berbeda, hal ini terlihat dari
bagaimana ketidakinginan satu kelompok untuk mau berbaur dengan kelompok lain
dan dengan rasa primordialisme yang tinggi menganggap kelompoknya jauh lebih
baik dari keolompok yang lain. Akan tetapi Ms. Gruwell dapat memberikan suatu
penerapan tindakan yang dapat melunturkan rasa primordialisme dari tujuan awal
kelompok-kelompok tersebut dan akhirnya dapat membentuk suatu tujuan baru yang
tujuan ini digunakan memperkuat integrasi oleh semua kelompok yang ada sehingga
menjadi seuatu kelompok yang baru.
Ketiga
adalah adanya hubungan interaksi. Proses interaksi dilakukan dan berfungsi
untuk dapat mencerna sistem-sistem sosial yang hadir dalam masyarakat. Proses
interaksi kelompok kelas 203 dalam film ini merupakan proses interaksi
asosiatif, dalam artian dapat memperkuat konsolidasi pada sebuah kelompok atau
antar kelompok. Kelompok ini diperkuat oleh proses interaksi yang terjadi
secara kontinyu dan konsisten antar kelompok yang ada sehingga dapat memperkuat
identitas kelompok yang baru.
Keempat
adalah tentang struktur.
Terakhir,
yaitu tentang nilai dan norma. Nilai dan norma ini adalah suatu yang paling
dasar untuk dapat membentuk suatu sistem sosial yang hadir dimasyarakat. Dalam
tataran realitasnya antara nilai dan norma untuk gambaran secara umum nilai
adalah hal utama. Nilai dianggap sebagai acuan dalam berkehidupan sosialnya,
karena nilai lebih dominan dan menjadi suatu konstruksi bagi masyarakat dan
masyarakat lebih menilai pada sistem rasionalitas tentang kebaikan yaitu nilai,
dan tidak didasarkan pada rasionalitas instrumental. Film Freedom Writers ini memperlihatkan bahwa suatu nilai yang
didasarkan atas kebaikan jauh lebih baik daripada mementingkan nilai-nilai yang
lebih bersifat pada keburukan, seperti suatu kelompok yang memiliki niatan
untuk menghabisi kelompok yang lain karena kelompok tersebut dianggap
mengancam. Jadi sebelum menjadi suatu kelompok yang baru dalam kelas 203 yang
dikelola oleh Ms. Gruwell, kelompok tersebut memiliki nilai untuk
mempertahankan kelompoknya, tapi setelah masuk dalam kelompok baru,
individu-individu yang ada dapat membentuk nilai yang lebih memprioritaskan
pada persatuan dan kesatuan.
Simpulan
Jadi
gambaran secara umu dari film Freedom
Writers ini adalah ingin memperlihatkan bagaiman sekalipun kuatnya
primordialisme yang ditujukan oleh kelompok suku atau ras satu dengan yang lain,
dapat diluntunturkan dengan melalui penyadaran secara kolektif di setiap
individunya bahwa tidak ada satu kelompok yang lebih dominan dan lebih kuat,
dan setiap individu merupakan makhluk sosial yang membutuhkan individu lain.
Karena dari penyadaran secara kolektif dapat menciptakan suatu integras,
tujuan, dan juga tata nilai yang lebih baik. Film ini lebih mengedepankan untuk
melahirkan sesuatu yang tidak dianggap mungkin menjadi mungkin, terlihat dari
bagaimana seseorang dapat memberikan pendidikan arti hidup dan menjadikan orang
yang lebih berguna kepada anak-anak yang sudah dianggap sebagai sampah oleh masyarakat
mampu merubah mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar