Jumat, 26 Oktober 2012

Film Freedom Writers: Penyadaran Kolektif Lewat Menulis

Film Freedom Writers:

Penyadaran Kolektif Lewat Menulis

Bagus Kurnia Rahman
 

Sekilas tentang Freedom Writers
Film Freedom Writers ini menceritakan tentang bagaimana seorang pengajar disebuah sekolah menengah atas di Negara Amerika Serikat yang mampu untuk menghandle dan dapat memberikan sebuah bentuk persatuan atau penyatuan integrasi kelompok tanpa melihat berbagai macam suku dan ras yang hadir dalam kelompok kelas tersebut. Cerita ini bermula ketika terdapat seorang pengajar atau guru baru yang masuk disekolah Woodrow Wilson High School New Port Beach, kawasan Amerika Serikat sebagai pengajar guru bahasa Inggris yang bernama Erin Gruwell. Gruwell sangat terkejut ketika mendapati anak didiknya yang sangat beragam dan keras, dalam artian mereka yang menjadi musri dari Erin Gruwell adalah
anak-anak yang masuk dalam aliran-aliran kelompok sendiri. terdapat berbagai ras dan suku yang hadir dalam kelas 203 ini. Orang kulit putih asli Amerika, orang keturunan kulit hitam, orang Kamboja (Asia), dan juga orang-orang keturunan yang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Di kelas, anak-anak tersebut selalu membentuk kelompok sendiri sesuai dengan sesamanya, orang-orang kulit hitam sendiri dan sebagainya dan tidak mau berbaur dengan kelompok lain. Hal ini dikarenakan adanya suatu unsur primordialisme yang sangat kuat yang membentuk mereka seperti ini, mereka menganggap kelompok lain tidak jauh lebih baik dari kelompoknya. Imbasnya adalah munculnya ketegangan sosial atau krisis sosial yang  marak terjadi di Amerika, perang antar kelompok atau geng sudah menjadi hal yang lumrah pada waktu itu, hingga kekerasan seperti ini sampat terbawa ke ruang kelas dimana kelas sebagai tempat belajar mengajar.
Saat awal-awal Erin Gruwell menjadi pengajar dikelas 203, dia tidak dihormati sama sekali oleh murid-muridnya. Gruwell yang menjadi seorang pengajar sangat tidak tau harus berbuat apa untuk dapat menghilangkan sifat mereka yang arogan, keras, dan dipenuhi rasa permusuhan yang besar. Hingga pada akhirnya terdapat seorang murid yang menggambar orang kulit hitam dengan bibir yang besar yang disebar keseluruh kelas, dan akhirnya sampai pada seorang anak yang bertepatan adalah seorang anak berkulit hitam. Anak itu sedih karena diperlakukan seperti ini, hingga Ms. Gruwell melihat gambar tersebut dan akhirnya kemarahan dia muncul. Dari permasalahan ini, Ms. Gruwell mulai menerangkan bahwa perbedaan yang mengarah pada perpecahan itu tidak baik, ia menekankan bahwa hidup bukan didasarkanpada warna kulit yang justru dianggapa anak-anak dikelasnya sebagai faktor utama dalam pencitraan kelompok-kelompok tersebut. Hari demi hari dilakukan Gruwell untuk dapat memberikan suatu treatment yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan yang dapat mengubah pola pikir mereka yang arogan, keras, dan dipenuhi rasa permusuhan tersebut. Pada akhirnya Gruwell menemukan suatu cara dengan memberikan catatan harian kosong (diary) yang diberikan setiap murid untuk diisi dengan apa yang ingin mereka isi. Curahan hati dalam kahidupan merekalah yang kemudian mereka isi ke diary tersebut.
Selain itu, Gruwell juga menerapkan pada mereka untuk membaca kisah-kisah yang membuat murid-nuridnya bangkit dan lepas dari konstruk kelompok-kelompok mereka. Perlahan tapi pasti, anak-anak dikelas 203 tersebut mulai berubah dari rasa primordialisme yang sangat kuat. Gruwell dapat menciptakan suatu kesadaran kolektif bagi murid-muridnya. Lebih kompleksnya ketika mereka diajak oleh Gruwell ke museum Holocaust tempat dimana segala informasi tentang korban para pembantaian orang-orang Yahudi  oleh orang-orang Nazi. Dan akhirnya secara totalitas, Gruwell dapat merubah mainstream murid-muridnya menjadi lebih baik. Cerita ini diakhiri dengan tulisan-tulisan dari diary mereka yang menjadi sebuah buku yang inspiratif.
Dalam film Freedom Writers, Gruwell berusaha membuat para muridnya sadar bahwa dengan pendidikan mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik. Gruwell rela mengorbankan hari-harinya dan bahkan suaminya demi mengubah murid-muridnya. Walaupun semua usahanya itu tidak didukung oleh rekan-rekan guru yang lain dan pihak sekolah, Gruwell terus berusaha maju.

Kajian Dinamika Kelompok
Film Freedom Writers jika dibahas dengan konsep dinamika kelompok terutama dalam ciri-ciri kelompok maka akan mempunyai penjelasan-penjelasan tersendiri.disetiap poinnya. Pertama adalah terdapatnya dua individu atau lebih yang dapat membentuk kelompok. Dalam film ini jelas terdapat suatu komunitas kelompok di dalamnya, hal ini terbukti dari terdapatnya individu-individu yang berasal dari berbagai ras dan suku yang berada dalam satu kelas. Komunitas ini dibentuk dalam suatu kelas sebagai sarana belajar-mengajar di sekolah. Terdapat seorang guru (Ms. Erin Gruwell) yang mampu membaurkan berbagai macam kelompok yang ada dikelas sebelumnya sehingga menjadi sebuah kelompok baru yang didalamnya terdapat kelompok-kelompok sebelumnya. Dalam membetuk kelompok baru, Ms. Gruwell mencoba untuk melunturkan identitas-identitas sebelumnya menjadi identitas yang baru atau seca kolektif. Jika dikorelasikan dengan pandangan Marx, bahwa Ms. Gruwell mampu menciptakan kesadaran kolektif dari setiap individunya yang sebelumnya hanya memiliki kesadaran semu tentang kondisi sebelumnya. Ikatan keintiman suatu kelompok akan lebih kuat ketika individu berbaur dengan kelompok sebayanya. Dalam film ini menerangkan bahwa primordialisme kelompok lebih kuat dalam kehidupannya.
Kedua adalah tentang motif atau tujuan yang sama. Secara realitasnya, individu-individu pasti memiliki suatu tujuan-tujuan tertentu. Akan tetapi jika muncul suatu permaslah baru yang masuk, maka tidak dapt dipungkiri bahwa dari peroalan-persoalan baru tersebut akan menciptakan tujuan baru, tapi juga dari tujuan baru ini dapat juga memunculkan perbedaan kelompok. Dalam Freedom Writers menceritakan dalam kelas 203 terdapat beragam kelompok suku dan ras yang pada intinya memiliki tujuan-tujuan tersendiri antar kelompk-kelompok tersebut. Tujuan antara kelompok satu dengan yang lain jelas sangat berbeda, hal ini terlihat dari bagaimana ketidakinginan satu kelompok untuk mau berbaur dengan kelompok lain dan dengan rasa primordialisme yang tinggi menganggap kelompoknya jauh lebih baik dari keolompok yang lain. Akan tetapi Ms. Gruwell dapat memberikan suatu penerapan tindakan yang dapat melunturkan rasa primordialisme dari tujuan awal kelompok-kelompok tersebut dan akhirnya dapat membentuk suatu tujuan baru yang tujuan ini digunakan memperkuat integrasi oleh semua kelompok yang ada sehingga menjadi seuatu kelompok yang baru.
Ketiga adalah adanya hubungan interaksi. Proses interaksi dilakukan dan berfungsi untuk dapat mencerna sistem-sistem sosial yang hadir dalam masyarakat. Proses interaksi kelompok kelas 203 dalam film ini merupakan proses interaksi asosiatif, dalam artian dapat memperkuat konsolidasi pada sebuah kelompok atau antar kelompok. Kelompok ini diperkuat oleh proses interaksi yang terjadi secara kontinyu dan konsisten antar kelompok yang ada sehingga dapat memperkuat identitas kelompok yang baru.
Keempat adalah tentang struktur.
Terakhir, yaitu tentang nilai dan norma. Nilai dan norma ini adalah suatu yang paling dasar untuk dapat membentuk suatu sistem sosial yang hadir dimasyarakat. Dalam tataran realitasnya antara nilai dan norma untuk gambaran secara umum nilai adalah hal utama. Nilai dianggap sebagai acuan dalam berkehidupan sosialnya, karena nilai lebih dominan dan menjadi suatu konstruksi bagi masyarakat dan masyarakat lebih menilai pada sistem rasionalitas tentang kebaikan yaitu nilai, dan tidak didasarkan pada rasionalitas instrumental. Film Freedom Writers ini memperlihatkan bahwa suatu nilai yang didasarkan atas kebaikan jauh lebih baik daripada mementingkan nilai-nilai yang lebih bersifat pada keburukan, seperti suatu kelompok yang memiliki niatan untuk menghabisi kelompok yang lain karena kelompok tersebut dianggap mengancam. Jadi sebelum menjadi suatu kelompok yang baru dalam kelas 203 yang dikelola oleh Ms. Gruwell, kelompok tersebut memiliki nilai untuk mempertahankan kelompoknya, tapi setelah masuk dalam kelompok baru, individu-individu yang ada dapat membentuk nilai yang lebih memprioritaskan pada persatuan dan kesatuan.

Simpulan
Jadi gambaran secara umu dari film Freedom Writers ini adalah ingin memperlihatkan bagaiman sekalipun kuatnya primordialisme yang ditujukan oleh kelompok suku atau ras satu dengan yang lain, dapat diluntunturkan dengan melalui penyadaran secara kolektif di setiap individunya bahwa tidak ada satu kelompok yang lebih dominan dan lebih kuat, dan setiap individu merupakan makhluk sosial yang membutuhkan individu lain. Karena dari penyadaran secara kolektif dapat menciptakan suatu integras, tujuan, dan juga tata nilai yang lebih baik. Film ini lebih mengedepankan untuk melahirkan sesuatu yang tidak dianggap mungkin menjadi mungkin, terlihat dari bagaimana seseorang dapat memberikan pendidikan arti hidup dan menjadikan orang yang lebih berguna kepada anak-anak yang sudah dianggap sebagai sampah oleh masyarakat mampu merubah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar