Perhelatan piala dunia 2010 (FIFA World Cup) telah usai sejak 12 Juli lalu. 32 negara telah menjadi kontestan dalam pertandingan olahraga terakbar dijagad dunia yang ada. Tidak hanya Negara yang ikut bertanding untuk menjadi juara dunia, akan tetapi masyarakat dunia pun saling berlomba untuk mendukung tim kesebelasan yang yang mereka dukung.
Sepak bola seolah merupakan olahraga yang sangat terpopuler di seluruh kalangan usia, mulai dari anak usia dini sampai manula. Sepak bola telah meracuni para individu yang menggilainya. Rasa fanatisme yang tingi merupakan awal bagi para indvidu untuk menggilai sebuah sepak bola entah itu club atau sebuah tim nasional. Fanatisme yang muncul dapat terkonstruksi dari eksternal maupun internal dari individu tersebut. Sebut saja dari sisi eksternal, prestasi dari sebuah tim sepak bola atau pun pemain bola yang membuat pikiran individu untuk memujanya. Dari sisi internal, individu mencoba untuk memposisikan dirinya agar nantinya dapat menjadi sebuah bagian dari apa yang dibanggakannya (dalam hal ini adalah duia sepak bola).
Kembali pada fanatisme di atas, sebagai realitasnya inividu akan menanamkan sifat fanatisme pada pemain sepak bola ataupun klub sepak bola yang dipuja-pujanya. Sifat fanatisme inilah yang mulai mendorong individu untuk bersikap secara lebih pada apa yang dipujanya. Sebagai contohnya, tidak sedikit orang-orang yang mempunyai klub-klub sepak bola yang maju berani untuk membeli para pemain-pemain yang berkelas dunia dengan harga-harga yang sangat mahal. Hal ini dilakukan untuk dapat memajukan klub sepakbolanya. Pemain-pemain berkelas dunia semacam Maradona, Pele, C.Ronaldo, Zidane, dan juga David Beckham, selain sebagai pemain berkelas dunia dengan harga-harga yang sangat mahal dalam bursa transfer pemain sepak bola, mereka juga sebagai icon sepak bola dunia yang sangat mempengaruhi banyak individu yang menggilai dunaia bola sehingga memunculkan sikap fanatisme yang akan sangat.
Jika dilihat dari pandangan E.B. Tylor tentang agama, seorang pemain yang tengah dipuja-puja oleh para penggemar yang terfanatikkan oleh pemain tersebut maka pemain tersebut dijadikan sebagi ikon atau dapat dikatakan sebagai totem yang berada di masyarakat dan bagaimana seorang individu tersebut dapat memuja-muja totem (pemain sepak bola) yaitu dengan tindakan yang dilakukan maka hal itu disebut dengan taboo.
Tidak heran, banyak orang mengatakan bahwa sepak bola adalah sebuah agama baru yang telah dianut oleh ribuan manusia di bumi ini. Dalam perspektif Robert N. Bellah tentang Civil Relegion, Robert berpendapat bahwa sepak bola juga merupakan sebuah agama bagi individu. Civil Religion, menurut Bellah, tidak dalam arti agama konvensional atau agama yang multikultur atau dapat juga dikatakan sebagai agama yang ada seccara umum dimasyarakat. Akan tetapi agama yang muncul dari suatu bentuk kepercayaan baik itu dari segi nilai dan praktik yang memiliki semacam “teologi” (pemaknaan akan agama, adanya suatu wujud yang disebut Tuhan, adanya rasa spiritualisme dan regiusilitas dari individu) dan ritual tertentu yang di dalam realisasinya menunjukkan kemiripan dengan agama. Agama sendiri itu dapat muncul dari adanya suatu kolektifitas dari sebuah komunitas yang di mana kolektifitas tersebut dapat dijadikan sebuah identitas yang berlaku pada komunitas tersebut.
Identitas yang muncul dari individu atas sebuah komunitas tersebut yang berdasarkan atas penganutan pada sebuah klub sepak bola merupak sebuah indentitas yang semu. Fungsi-fungsi dari identitas kolektif sebuah kelompok akan menawarkan kenyamanan, rasa percaya diri yang diberikan pada dasarnya hanya untuk memberikan sebuah hegemoni laten bagi para individu agar dapat menyisihkan kesadaran individu menuju kesadara kolektif, yaitu dengan mendukung secara penuh klub sepak bola yang dibanggakannya. Menurut Karl Marx, agama merupakan sebuah candu yang dapat menenangkan bagi indivdu yang tengah gundahannya. Sehingga dapat dikatakan sepak bola dapat berubah menjadi sebuah hal yang menyenangkan bagi orang-orang menganutnya. Menindak lanjuti perkataan Marx tentang agama yang ia rangkum untuk menentang perlawanan kapitalisme, Marx sepenuhnya menerima kritik dari Feurbach terhadap agama yaitu, bahwa manusia yang membuat agama, dan bukan agama yang membuat manusia. Menurutnya sebuah agama adalah perealisasian hakekat manusia di dalam angan-angannya. Hal ini dapat terbukti dari bagaimana kesadaran, alur pikiran, dan emosi seorang individu dapat terpengaruh dengan kondisi permainan tim sepak bola yang mereka dukung, yang imbasnya dapat melabilkan tingkat emosi seseorang. Jadi pada dasarnya, individu yang menganut atas angan-angannya tentang sebuah tim maupun pemain sebagai ikon sepak bola yang dibanggakannya dengan ditambahkan pula kekolektifan identitas dari kelompoknya sehingga memunculkan sebutan baru di dunia persepak bolaan, yaitu agama sepak bola.
Hidup adalah pilihan. Sekarang bergantung pada Anda, apakah Anda termasuk pada golongan yang fanatika akan dunia bola? Ataukan hanya sekedar sepak bola sebagai penghibur bagi Anda? Itu hak Anda sebagai penikmat dunia sepak bola… Memang sepak bola telah merasuki kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya yang ada dimasyarakat, akan tetapi kita sebagai individu yang beragama secara konvensional tidak harus merubah paradigma sepak bola sebagai sebuah “agama baru” yang menjadi anutan banyak orang. Dan yang paling penting dalam hidup kita, jauhilah untuk hidup dengan prinsip ateisme…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar