“Sesungguhnya alam telah menyediakan tumbuh-tumbuhan dengan jumlah dan jenis yang berlimpah untuk memelihara kesehatan manusia. Kita tinggal mempelajari khasiatnya dan meramunya secara tepat untuk memperoleh manfaat terbaik bagi kesehatan”
1918
Di desa Wonogiri, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama T.K. Suparana membuat ramuan tradisional dari
tanaman berkhasiat yang popular dengan sebutan “jamu” dalam bentuk serbuk. Ramuan jamu berbentuk serbuk tersebut merupakan pelopor produk industry jamu yang kemudian diberi nama Djamoe Djago. Dengan dukungan manajemen pemasaran yang cukup agrsif saat itu, penjualan produk Djamoe Djago merambah sampai ke Solo hingga ke seluruh pulau Jawa.
1936
Di saat pemasaran Djamoe Djago telah berkembang ke berbagai pelosok Nusantara, secara mendadak T.K. Suprana mengundurkan diri dari kegiatan perusahaan, bahkan dari seluruh kegiatan duniawi. Kemudian T.K. Suprana menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada keempat puteranya, yaitu, Anwar Suorana, Panji Suprana, Lambang Suprana dan Bambang Suprana.
Setelah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 1945. Secara bertahap pusat kegiatn djamoe Djago dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis di bagian tengah pantai utara pulau Jawa, yakni kota Semarang. Di bawah kepemimpinan Generasi II, Djamoe Djago berkembang pesat. Jenis produk berkembang menjadi lebih dari seratus, dengan produk-produk unggulan seperti Pegal Linu, Galian Puteri, Kuat Lelaki, Tujuh Angin, Tolak angin, Sari Rapat, Sekhot, Seklov, dan lain-lain yang diolah dan diproduksi menggunakan mesin-mesin modern. Pada tahun 1962 dajamoe Djago merupakan perusahaan jamu pertama yang mendirikan anak perusahaan yang khusus memproduksi obat farmasi dengan nama DEGEPHARM.
1978
Secara bertahap alih-kepemimpinan kepada Generasi III terlaksana dengan mulus. Para tokoh penerus ini adalah: Jaya Suprana, Sindu Anwar, Monika Suprana, Nugraha Suprana, Suryohadiwinoto, dan Sena Kardaji. Beberapa catatan prestasi Generasi III antara lain: Pendirian Pusat Jamu Jago di Srondol yang dilengkapi Museum Jamu Jago. MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia), Pusat Litbang Laboratorium Jamu Jago yang menciptaka mahakarya produk-produk inovatif seperti jamu Buyung-Upik, Basmingin, purwoceng, B-Krim, sayuri, Esha Plus, Bandrex, Selasih, Lulur Camaline. Pada periode ini juga dibentuk Jago Foundation yang menjabarkan tanggung jawab sosial perusahaan melalui beragam kegiatan pengabdian di bidang kemanusiaan, kesenian, olahraga dan pendidikan. Di segi promosi dan pemasaran juga dilakukan terobosan dengan menampilkan produk-produk Jamu jago di arena pameran dagang di Jerman, Belanda, USA, Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, dll. Demikian pula dalam hal kualitas jamu Jago memperoleh berbagai penghargaan internasional, yaitu, Gold Medal dari International Institute de la Qualite, Trade Leader’s Club dan lain-lain. Jamu Jago merupakan perusahaan jamu pertama yang memperoleh ijin ekspor dari Departemen Kesehatan Jepang. Sebagai upaya mendukung kemandirian jamu di negeri sendiri, Litbang Jamu Jago atas bimbingan Kementerian Riset dan Teknologi RI menusun rancangan Sekolah Tinggi Jamu Jago untuk mendidik para peramu dan pengobat jamu professional.
2008
Ini, memasuki usia 90 tahun, Kelompok Usaha Jamu Jago telah memproduksi jamu, obat fitofarmaka dan farmasi, kosmetik, dan minuman kesehatan. Untuk menjawab tantangan masa depan, kepemimpinan diestafetkan kepada kerabat-kerja professional Generasi IV. Awal alih generasi ditandai dengan dinobatkannya Jamu Jago sebagai Jamu Pilihan Resmi Keraton Surakarta hadiningrat. Generasi IV terdiri dari Griyo Surjono, Eva Retnowulan, Soelistyowati, Fanny Diyanti, Andoyo Liem, Lanny Kristiani, Ninik rahayu, Lily Budirahardjo, Arya Suprana, dan Ivana Suprana. Jago-jago muda ini bergandeng tangan, bersatu-padu terus-menerus melakukan inovasi dan pengembangan manajemen produksi, pemasaran, keuangan, system informasi dan SDM. Disorong gelora semangat Kebangkitan Nasional, jago-jago muda bertekad kuat untuk senantiasa menjunjung tinggi harkat dan martabat jamu sebagai pemeran utama pelayanan kesehatan bangsa Indonesia.

trimakasih artikelnya bagus
BalasHapus